Jumat, 27 Februari 2015

KOPI HITAM BUATAN AYAH

12




Bagi kalian mungkin Super Man adalah orang yang kuat, karena bisa mangangkat benda – benda berat dan dapat menghentikan lajunya kereta api. Tapi bagi saya, ayah adalah sosok manusia yang paling kuat. Memangsih dia tidak bisa menahan dan menghentikan lajunya kereta api, tapi dia bisa menahan dan menghentikan tangisan anak dan istrinya dari derita kelaparan himpitan ekonomi.

Ayah adalah orang yang tak pernah mengeluh dengan apa yang ia rasakan. Lelah , letih ia tak peduli, demi sesuap nasi untuk anak dan istri. Panas , hujan, itu bukanlah halangan untuk bisa mejalankan kewajiban. Kewajiban sebagai kepala rumah tangga , tulang punggung keluarga. Dia punya banyak cerita tentang kerasnya hidup yang ia lewati dengan semangat yang tak pernah redup. Terkadang senyumannya palsu, menyembunyikan sesuatu yang orang lain tidak boleh tau. Sedih, pilu dibungkus menjadi satu dan di simpan di senyum yang palsu itu. Tujuannya hanya satu, agar anak dan istri tidak ikut terbebani dan merasa sedih.

Kadang, pekerjaan yang ia lakukan bisa membahayakan nyawanya. Tapi ia tidak merasa takut dan langsung menyerah, apalagi putus asa. karena yang lebih menakutkan baginya adalah melihat anak dan istrinya hanya bisa memandang piring kosong tanpa ada nasi sebutir pun di sana. Kadang ia pulang dengan beberapa goresan luka di badan, karena terjadi sesuatu saat melakukan pekerjaan. Tapi baginya itu biasa, luka itu tidak akan terasa sakit ketika dia menerima upah dari tempat ia bekerja. Karena itu yang ia harapkan demi menghidupi keluarga. Itulah ayah, lelaki yang sangat kuat dan bijaksana menurut saya.

Pagi ini, dengan udara yang dingin menyelimuti tubuh, saya pun harus bangun untuk menyambut mentari pagi. Di teras rumah yang sederhana ini, di kursi tua yang terbuat dari rotan, saya duduk sambil menghirup segarnya udara pagi. Sosok yang ku kenal ramah dan bijaksanapun datang menghampiri. Ya, dialah ayah. Dengan dua gelas kopi di tanganya, ia tersenyum dan menyapa saya. Tapi kali ini bukan dengan senyuman palsu, tapi dengan senyuman indah untuk anaknya tercinta.

“nih , kopi buatan ayah” kata ayah saya
“terima kasih yah” jawab saya
“ayo diminum, supaya tubuhmu hangat nak” ia lagi berkata
“ia ya” saya

Sayapun mengangkat gelas yang berisi kopi hitam itu, dan segera menyeduhnya. Kopinya tidak terlalu manis, malah bisa di bilang pahit.

“kurang manis yah, agak pahit” kata saya

Mendengar komentar saya, dia tertawa kecil seprti ada yang lucu dari perkataan saya. Dan kemudian berkata.

“ Nak, kopi itu warnanya hitam, jadi wajar kalau dia tersa pahit. Untuk bisa memaniskannya, caranya adalah dengan menambahkan gula. Tapi tidak berhenti sampai di situ, kita harus mengaduknya, agar supaya gulanya bisa larut dan bisa memaniskan kopi pahit itu.  Seperti halnya dengan kehidupan, tidak langsung manis seperti apa yang kita inginkan, butuh proses agar supaya semuanya bisa berjalan lancar. Harus diaduk dulu, dan itu tidak hanya sekali, butuh beberapa kali agar sesuai dengan apa yang di harapkan. ”

“ohhh gitu ya” saya pun mnjawab seperti orang bodoh.
Kemudian ia melanjutkan perkataannya.

“ Hitam dan pahitnya kopi itu, sama dengan hitam dan pahitnya hidup yang ayah alami. Berbagai cobaan selalu datang menghampiri, tak kenal waktu dan tempat. Kadang ayah merasa lelah dan ingin menyerah, tapi ayah tidak melakukannya, karena ayah tidak mau melihat senyumanmu dan ibumu berubah menjadi kesedihan. Sedih karena memiliki seorang ayah yang pengecut dan tak bisa apa – apa. Sekarang ayah sudah tua, tenaga ayah pun sudah tak seperti waktu muda.”

Sesekali ia menyedu kopinya. Dan melanjutkan perkataanya

“Nak, kamulah semangat ayah untuk tetap bisa menjalani hidup sampai sekarang ini. Ayah ingin melihat kamu dewasa dan menjadi orang yang berguna. Ayah tidak berharap apa – apa, dan tidak menuntut kamu harus membayar semua apa yang ayah lakukan dengan gaji bulanan yang kamu dapatkan nanti. Ayah hanya menginginkan do’a darimu nak. Kelak, jika ayah tiada, ayah ingin melihat kamu dari atas sana, sujud di atas sajadah, bersimpuh di hadapan Allah dan menyelipkan do’a untuk ayah. Dan ayah juga berharap, di saat ayah sakarat, kamu ada di samping ayah, menggengam tangan ayah menuntun setiap hilangnya satu demi satu hembusan nafas ayah, dengan kalimat Syahadat  yang terucap dari bibirmu, terbata – bata  karena menahan air  mata. Ayah juga ingin, kamu adalah orang yang berada di depan,  memikul keranda jenazah ayah hingga tempat peristirahatan terakhir. Dan jangan lupa, agar sesekali sempatkanlah langkah untuk berkunjung ke kubur ayah, walaupun hanya untuk melihat nisan yang bertuliskan nama ayah.”

Saya pun bingung, sedih, tak tau harus berkata apa.  Saya melihat matanya berkaca – kaca. Dahinya mengkerut, mungkin karena ingin menahan air mata. Pagi ini, saya mendapat pelajaran yang sangat bermakna dan sebuah harapan dari orang yang ku cinta.

“ayo nak habiskan kopinya , nanti keburu dingin” ayah.
“iya yah” jawab saya dengan sedikit tersendat.

 Ayah, kelak tua nanti, aku ingin menjadi sepertimu. Menjadi orang yang bijaksana dan sangat berarti bagi keluarga. Wariskanlah sifat pantang menyerahmu agar aku tidak mudah kalah atas kejamnya dunia. Maafkanlah semua kesalahanku, yang selalu membuatmu marah, yang tidak jarang aku membentaknya, bahkan sesekali aku memaki dalam hati karena tidak bisa menerima semua perkataanmu. Aku lupa, kalau semua itu adalah nasehat demi kebaikan ku. Ayah kamu adalah orang yang sangat hebat, air matamu tidak jatuh di hadapanku. Padahal matamu sudah berkaca – kaca  menahan semua itu. Aku tau, kali ini kamu kembali bersembunyi di senyumanmu yang palsu itu, seperti yang pernah kau lakukan di waktu lalu.


 Ayah, kamulah idolaku, bahkan lebih dari itu.

12 komentar:

  1. Itu pas dialog, kenapa di italic?
    Setau gw diog yg italic itu klo berbicara dalem hati, klo ga salah sih :) keep writing bruh...

    BalasHapus
  2. Itu pas dialog, kenapa di italic?
    Setau gw diog yg italic itu klo berbicara dalem hati, klo ga salah sih :) keep writing bruh...

    BalasHapus
  3. oooo gitu ya,, oke,,, di rubah bang,.. hahahah

    BalasHapus
  4. Gue ga mau ngebahas masalah teknis di sini. Tapi feelnya dapet. Knp? Gue ni cewek manja yang cuma bisa nurut sama bokap. Gue ni daddy's little girl. Lebih dket sm Papa ketimbang mama. Pas kalimat ttg kematian itu huwaaa jujur nyesek. Gue blm sanggup kl ga sm papa, meski justru gue udah punya suami. PAPA tuh seumur hidup, blm pernah liat dia kesel atau ngeluh atau ngambek pas gue manja bgt. Apa-apa gue sregnya sama papa. Makan di luar berdua jg sm papa hehe. huwaaaa jadi pgn peluk papakuuuu

    BalasHapus
  5. yaaa,, masukannya dong neng,,, hehehehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu termasuk masukan juga bang. Teknisnya oke tapi ga ada jiwanya justru malah ga bgs. Tp yg ini bgs. Suka.

      Hapus
    2. oo, gitu ya,, mkasi ya Gi.. msi bth bnyk bmbngn.

      Hapus
  6. Sayangi dan bahagiakan lah kedua orang tua kita selagi mereka masih ada. Saya juga termasuk daddy's girl. Waktu ayah pergi, rasanya hampaaaaa sekali, tak terkatakan. Sampai sekarang masih suka nangis kalo kangen ayah. Cuma bisa ngedo'akan T_T

    BalasHapus
    Balasan
    1. insyaAllah do'anya di terima,, dan bisa membuat sang ayah bhagia dsna,, amin.

      Hapus
  7. itulah cara ayah menyampaikan kasihnya dan petuahnya lewat dialog ringan

    BalasHapus
    Balasan
    1. ia,, kbnyakan dari mereka adalah pendiam,, tapi sekali berkata-kata,, sangat berarti dan bermakna.

      Hapus

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com