Kira-kira dua tahun
lebih blog ini sunyi, itu karena saya tidak punya banyak kesibukan yang sangat
tidak penting. Tapi akhirnya hari ini
saya bisa memperkosa lagi blog ini dengan agak kaku karena sudah lupa beberapa
gaya dan sudah agak sedikit malu karena lama tak bertemu.
Oo iya, ada yang sudah
nonton film Dilan 1990?
Sudah hampir tiga
minggu film Dilan 1990 main di bioskop, dan tadi saya lihat penontonnya sudah
mencapai 5.302.000 penonton. Kalau tidak salah saya nonton filmnya di minggu
kedua. Dan sumpah, itu adalah hari dimana pas saya nonton film di bioskop dan
bioskop di penuhi suara teriakan cewek yang sangat mendominasi ruangan yang
ukurannya saya tidak tau berapa kali berapa.
Saya hampir-hampir mau
teriak ke mereka semua “brisik”, tapi
tidak saya lakukan. Karena saya masih sadar akan resikonya jika saya lakukan
itu, pasti saya akan langsung di terkam oleh semua orang yang lagi baper akan alur
ceritanya dan juga baper akan akting Ikbal dalam film itu.
Setiap kali Ikbal
mengucapkan kata-kata gombal, seluruh cewek yang ada di sana pasti teriak
histeris, termasuk pacar saya. Hampir-hampir saya bilang ke pacar saya “kamu sekongkol ya sama mereka?” tapi
tidak saya lakukan karena saya sadar dia juga lagi baper.
Ternyata tidak hanya
racun cobra yang memiliki efek yang mematikan dengan cepat. Film dilan pun sama,
walaupun tidak mematikan tapi film ini cepat merubah otak para cewek-cewek yang
nonton berangan–anagan memiliki cowok
seperti Dilan.
Sebenarnya tidak jadi
masalah kalau itu hanya sebatas angan-angan. Tapi parahnya , ada dari sebagian
mereka yang ingin mewujudkan itu dalam kehidupannya. Saya pernah lihat ada pasangan
cewek dan cowok yang lagi bertengkar terus cewek nya bilang ke cowok nya dengan
nada tinggi menunjukkan kalau dia sedang marah “kamu
tidak seperti Dilan, aku benci kamu”. Saya seolah-olah langsung menjadi
orang yang bisa baca pikiran dan langsung membaca pikiran si cowok, dan tau apa
yang dia pikirkan? “Tuhan kutuk aku jadi lumut” itu yang bisa saya baca dari pikirannya.
Tapi saya akui cerita
dari film Dilan sangat menarik perhatian. Sampai-sampai saya tertarik untuk
membaca bukunya. Padahal saya adalah tipe orang yang malas baca novel romantis.
Tapi entah kenapa akhirnya saya cari dan saya pun membacanya hingga kelar. Dari Dilan
1990, terus Dilan 1991 hingga Milea “suara dari Dilan” dalam waktu yang kurang
dari satu minggu.
Akhirnya saya hanya
bisa mngatakan jika Dilan dan Milea itu benar-benar ada, dan ayah Pidi Baiq
hanya sebagai penulis dari kisah mereka berdua, saya hanya bisa bilang bahwa Dilan
dan Milea sebenarnya lagi saling ingin di mengerti dan ingin mengklarifikasi
tentang perasaan masing – masing pada
waktu itu dengan cara yang sangat romantis dan tak biasa. Tidak mengungkapkanya
secara langsung tidak juga di pendam melainkan di tuangkan dengan tulus dalam
bentuk Novel dengan 300 lebih halaman
yang dari semua kisah mereka tidak ada yang membosankan untuk di baca. Dan dari
Novel yang di tulis oleh ayah Pidi Baiq itu, saya bisa menyimpulkan bahwa ayah
Pidi adalah operator provider terbaik yang membuat Dilan dan Milea tau apa yang
sebenarnya mereka rasakan pada waktu itu.
Sukses buat ayah Pidi
Baiq, Ikbal dan Venesha
Sekian dulu dari saya,
Pidi Jahat. hehe




